24 October 2017
Pendidikan Liberal Arts UPH, Dorong Mahasiswa Berpikir Holistis
Pendidikan Liberal Arts menjadi penting dewasa ini terlebih ketika berbicara mengenai pendidikan holistis dalam sebuah perguruan tinggi
Seminar Sehari Pendidikan Liberal Arts Berbasiskan Wawasan Dunia
Pendidikan Liberal Arts menjadi penting dewasa ini terlebih ketika berbicara mengenai pendidikan holistis dalam sebuah perguruan tinggi. Untuk membahas kebutuhan akan Pendidikan Liberal Arts, Fakultas Liberal Arts Universitas Pelita Harapan (FLA UPH) menghadirkan seminar sehari bertajuk 'Pendidikan Liberal Arts Berbasis Wawasan Dunia' pada 2 Mei 2017 di ruang D 501 UPH Karawaci. Seminar ini menghadirkan Hendra Thamrindinata, S.Si., M.Div Dekan FLA, serta beberapa dosen mata kuliah Liberal Arts UPH antara lain Matthew R. Malcolm, Ph.D., Dr. F.Budi Hardiman, dan Stanley Djatah, Ph.D., sebagai pembicara kunci.
Hendra mengawali seminar ini dengan memberikan paparan mengenai Pendidikan Liberal Arts yang berbasiskan wawasan dunia. Menurut Hendra pendidikan Liberal Arts yang berbasis wawasan dunia sebagai kerangka acuan dalam memahami, menalar, menafsir, dan menjawab beragam pertanyaan eksistensial. Dengan demikian peserta didik dapat memahami segala sesuatu secara menyeluruh atau holistis.
 
Hendra Thamrindinata, S.Si., M.Div.
Di Indonesia sendiri, Hendra menjelaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara juga menjadi dasar wawasan dunia yang selalu diterapkan dalam pendidikan. Sila pertama yang mengatur kepercayaan agama para masyarakat menjadi pendukung bahwa sah saja suatu institusi pendidikan menjadikan agama Kristiani sebagai agama sah yang diakui negara, sebagai kerangka acuan dalam sebuah pendidikan Liberal Arts yang diajarkan. Dengan kata lain dapat disebut Wawasan Dunia Kristen, seperti halnya yang diterapkan oleh UPH. Hal ini bertujuan agar mahasiswa yang menganut kepercayaan Kristen dapat memahami perannya dan mengapropriasi esensi kehidupan Kerajaan Allah. Sedangkan bagi mahasiswa non Kristen akan mendapat pendidikan Liberal Arts yang berbasiskan wawasan dunia umum.
Matthew R. Malcolm, Ph.D.
Unsur teologi yang tidak terlepas dari pendidikan Liberal Arts ini memang penting. Matthew R. Malcolm menyatakan bahwa nilai teologi baik nilai Kristiani maupun agama lainnya sebagai kepercayaan seseorang, akan selalu berdampak dalam setiap aspek kehidupan orang tersebut, tentunya sebagai mahasiswa ini akan mempengaruhi proses belajar di masing-masing jurusan mereka. Konsep Teologi ini menjadi suatu yang normatif bagi mereka untuk memandang dunia. Konsep teologi ini bukan menjadikan mahasiswa sebagai ahli agama, tapi lebih menjadi kerangka acuan bagi mahasiswa untuk melihat realita dunia dan menjadi fondasi bagi mata kuliah lain. Sehingga diharapkan mereka lebih memiliki sensibilitas terhadap permasalahan lainnya.
Hal ini juga sejalan dengan pandangan Dr. F. Budi Hardiman, yang menyatakan bahwa generasi muda saat ini merupakan generasi milenials.
budi fla
Dr. F. Budi Hardiman
"Generasi muda saat ini tanpa sadar menjadi acuh tak acuh, malas membaca, dan 'Me' generation yang perduli hanya dengan kepentingannya. Kecendrungan ini juga mendorong mereka menjadi generasi terisolasi yang hanya memahami suatu persoalan secara parsial. Untuk itu melalui pendidikan Liberal Arts berbasis wawasan dunia diharapkan mampu menjadi jawaban untuk mengajak mahasiswa memahami realita secara holistis," ungkap Budi.
Menurut Budi, untuk mendukung pemikiran holistis melalui pendidikan Liberal Arts, sebuah universitas harus mampu mengajarkan beragam cabang pengetahuan, termasuk di dalamnya filsafat dan teologi. Filsafat dan Teologi keduanya saling mendukung. Melalui Pendidikan Liberal Arts ini lah mahasiswa diajak berpikir dan memahami secara holistis dari sisi teologi yang dibantu dengan konsep filsafat sebagai instrument pendukung untuk memahami kebenaran.
Stenly Djatah, Ph.D.
Pada sesi akhir yang disampaikan Stenly Djalaludin Djatah, Ph.D., membahas Liberal Arts dalam konteks Sains. Menurut Stanley, kebenaran Allah merupakan suatu hal yang substansial yang mendorong sain dapat menjelaskan detailnya. Tentunya pembahasan substansi ini bersama sains mendorong munculnya banyak pertanyaan dan kritik dalam ruang kelas. Dalam hal ini yang terpenting adalah keterbukaan dalam ruang kelas untuk lebih mencari sebuah kebenaran.
 
Seminar sehari ini dihadiri oleh kurang lebih 100 peserta yang berasal dari UPH maupun dosen dari universitas lainnya. Tidak hanya seminar, acara ini juga dilengkapi dengan lokakarya dimana peserta dibagi berdasarkan ketertarikan topik yang mereka pilih. Topik yang ditawarkan yaitu mata kuliah yang menjadi bagian dari tatanan pengajaran FLA UPH.